Bersahabat dengan Luka Bakar

Diposting oleh blog pribadiku

Main air basah,main api terbakar.Pepatah ini untuk mengingatkan bahwa setiap tindakan pasti ada akibatnya.Jika bermain api,lalu ada bagian tubuh terkena,risikonya menderita luka bakar.
Jika lukanya ringan,bekas yang ditinggalkan kecil saja dan mudah ditanganin.Jika berat,risikonya cacat permanen hingga kematian.Luka bakar berat memerlukan perawatan lama,mungkin juga perlu operasi berkali-kali.
Luka bakar menimbulkan kerusakan atau hilangnya jaringan akibat kontak dengan sumber panas dan sumber ekstra dingin.Ada banyak sumber panas yang dapat menimb ulkan luka,seperti api,setrika yang sedang dipakai,ledakan kompor,air atau minyak panas.Sumber lainnya,yaitu bahan kimia (dapat berupa asam kuat dan radiasi).Luka bakar juga dapat terjadi akibat sengatan listrik.
Air panas penyebab luka bakar dibedakan menjadi air panas bersih dan air panas kotor.Disebut kotor jika didalamnya terkandung bahan lain.Contohnya kuah bakso atau soto.Jika tidak segera dibersihkan,air panas kotor dapat menjadi media tumbuhnya bakteri pada luka.
Hal yang perlu dilakukan segera setelah seseorang terkena luka bakar adalah menghentikan proses luka bakar dengan memutuskan dan menjauhkan korban dari sumber penyebabnya.Jika tersengat knalpot panas,tersiram air,atau minyak panas,kompres selama 5-15 menit.Jangan gunakan kecap seperti kata orang selama ini.Kecap justru memungkinkan terjadinya infeksi.

(Dikutip dari Intisari,September 2006)

Burung,Sebuah Anugerah atau Pembawa Bencana

Diposting oleh blog pribadiku

Membandingkan sebab-musabab kehadiran burung di Jakarta,bukanlah pekerjaan mudah.Apalagi jika kita membandingkannya dengan singapura atau Melbourne.Kondisi lingkungan alamnya saja sudah sangat berbeda,belum lagi faktor manusianya.
Singapura adalah sebuah lingkungan kota dengan proporsi kawasan hijau yang ideal,meskipun tidak sepenuhnya alami.Hijaunya juga tidak sekedar hijau royo-royo,tetapi hijau berkicau.
Hal yang terwujud karena daerah kawasan hijau di Singapura sengaja dikembangkan.Dikawasan ini,pemerintah tidak hanya menyediakan pakan bagi satwa liar (seperti burung dan tupai),tetapi juga menyediakan air untuk menunjang kehidupan liar (wildlife).Model seperti ini disebut pembangunan wawasan biologi,menurut mantan Menteri Lingkungan Hidup,Prof.Dr.Emil Salim.
Selain itu,masih ada kawasan hutan/hijau Semenanjung Makala (Malaysia Barat) yang ikut juga menunjang kelestarian kehidupan liar di Singapura.Burung jalak pun merasa aman berkeliaran,bahkan di kawasan ramai seperti Orchard Road yang terkenal itu.
Melbourne lebih hebat dari pada di Singapura.Selain lingkungan kota mendukung,masyarakatnya juga pro burung dan satwa liar lainnya.Burung rosella masuk ruang kerja atau rumah,itu hal biasa.Masyarakatpun rajin menyediakan pakan dan minuman untuk burung di halaman belakang rumah mereka.Mereka melakukan hal ini agar burung-burung itu betah berkunjung atau tinggal disana.
Bagaimana denag Jakarta? Di Jakarta,kawasan hijau terus terkikis dari waktu ke waktu.Setelah kemayoran,kini giliran Muara Angke yang menjadi korban penggusuran.Kawasan hijau yang kini tersisa merupakan kantong-kantong yang relatif sempit dan tidak saling berhubungan.Dengan demikian,luasnya terkesan menjadi semakin sempit lagi.
Percayalah bahwa burung adalah sebuah anugerah Tuhan Yang Mahakuasa.Jika sampai terkesan sebagai bencana atau malapetaka,kita pasti telah salah melihatnya.

(Diktip dari Kompas,26 September 2005,dengan pengubahannya)

Anak-Anak Suku Laut Sekolah di Laut

Diposting oleh blog pribadiku

Mencari ikan lebih penting daripada sekolah.begitulah umunya pola pikir orang-orang suku Laut.Menangkap ikan adalah kegiatan utama dan segalanya bagi mereka.
Kehidupan manusia perahu yang kental dengan alam laut,menyebabkan mereka hanya mengenal ilmu yang berkaitan denga hidup sehari-hari.Tak ada ilmu yang lebih penting bagi mereka selain ilmu yang berkaitan dengan seluk-beluk laut dan cara-cara menangkap ikan.Ilmu itulah yang menjadi keahlian suku Laut dan senantiasa ditularkan kepada anak-anak.
Ya,karena itu,anak-anak suku Laut hanya sekolah di laut.Suku Laut membekali anak-anak untuk mengenal dunia kelautan sebagai lingkungan tempat tinggal.Sementara,guna menyambung hidup,anak-anak diajarkan keahlian berenang,menyelam,dan cara-cara menangkap ikan dengan peralatan,seperti pancing,jaring,tombak,rawai,bubu,dan sebagainya.Keahlian yang diwariskan secara turun-menurun ini membuat anak-anak suku Laut asyik bercengkerama dengan alam laut yang bagi masyarakat lainnya sangatganas dan penuh misteri.

(Gerbang,Edisi 6 Th.III)

Menimba Pelajaran dari Bencana

Diposting oleh blog pribadiku

Dari bencana,kita tidak boleh saling menyalahkan.Dari bencana,kita bersama-sama mengambil pelajaran.Ketika bencana bertubi-tubi datangnya-baik bencana alam maupun bencana buatan manusia-kita tidak bisa bersikap lain,kecuali bertanya kepada diri sendiri,apa makna dari semua ini?
Benarkah bencana alam dan bencana buatan manusia datang bertubi-tubi menimpa dan membelenggu kita,bangsa indonesia ?Kiranya,ya,dari bencana alam seperti gempa,gelombang tsunami,kekeringan.Kita lebih cenderung asyik dengan urusan masing-masing.Hal itu membuat bencana terasa lebih dahsyat dari kemauan dan kemampuan kita untuk menghadapinya.

(Dikutip dari Kompas,1 April 2005)

Pesona Tamansari di Ruang Tamu

Diposting oleh blog pribadiku

Gemercik air mengalun merdu pada suatu pagi nan sunyi di Tamansari.Sambil berperahu,para pangeran Kesultanan Yogyakarta menuju Istana Pulau Cemeti.Disalah satu sudut kompleks bangunan Istana Mangkunegara itu,putri-putri keraton bercanda ceria sambil menikmati segarnya air pemandian Taman Umbul Winangun.
Rindu suasana bak Tamansari itu mungkin mengilhami Ari Nababan menghadirkan taman air diruang tamu kediaman di Kota Kembang,Depok.Taman mungil berbentuk persegi panjang berukuran 3m x 2,5mtampil cantik disudut ruangan bersebelahan dengan seperangkat kursi tamu.
Sebuah kolam seluas 2,5m x 1,8m menjadi fokus utama.Disitu,ikan-ikan koi berwarna cerah berseliweran menggoda mata.Dibagian tengah kolam,menyembul tiga batu pijakan buatan.Warnanya lembut seharmoni dengan batu penghias tepi kolam.
Air yang mengucur dari dinding menyusuri batu-batu napoli menciptakan suara gemercik menyejukkan.Suara empasan air yang tumpah dari "mangkuk" di bawah batu napoli menuju kolam memecah kesunyian ruang tamu.Suasana taman kian syahdu dengan kehadiran empat lampu antik ditengah kolam.

(Dikutip dari Trubus no.419,Oktober 2004)

Lengkeng:Buah Pembawa Untung

Diposting oleh blog pribadiku

Siang itu,matahari menyengat kulit.Seorang pria bertopi biru tua menaiki tangga lipat setinggi 2 m.Dengan gunting tajam,tangannya cekatan memetik dompolan lengkeng yang bergelayut di pohon setinggi 2-3 m.Dibawah tangga,pria lain bertopi merah menampung buah dalam keranjang-keranjang plastik.Selesai di pohon pertama,mereka bergerak kepohon lain yang juga sarat buah.
Dipenghujung Agustus silam,kebun lengkeng seluas ujuh hektar di Sijangkung,Singkawang,Kalimantan Barat,memang tengah banjir buah.Bulatan-bulatan berwarna coklat kekuningan nyaris menenggelamkan hijaunya daun.
Karena saratnya buah,dahan pohon lengkeng setinggi 1 m itu doyong ke bawah .Satu dahan digelayuti dompol-dompol berisi puluhan buah hampir seukuran bola pingpong.Beberapa dahan disangga bambu supaya tidak patah."Dari satu pohon,minimal saya dapat satu kuintal",kata Ir.Hendrik,pengelola kebun sambil menunjuk satu pohon yang keberatan buah.
Setelah penuh buah,tiga keranjang hasil panen dibawa kesudut kebun.Masih berpeluh,dua pekerja mengemas buah.Tangkai-tangkai yang terlalu panjang dipotong,daun dibuang,lalu lengkeng ditata rapi dalam dus karton.Setelah ditutup rapi,dus siap diangkut oleh jasa ekspedisi.


(Dikutip dari Trubus no.419,Oktober 2004)

Tahun 2005,1.600 Anak Jadi Korban "Trafficking"

Diposting oleh blog pribadiku

Data terbaru pihak kepolisian menunjukan,selama tahun 2005,sebanyak 1.600 anak jadi korban trafficking (perdagangan anak).Harga seorang anak bervariasi antara Rp 5 juta sampai Rp 20 juta,bergantung pada selera si pembeli."Anak-anak perempuan yang berada di jalan paling rawan menjadi korban perdagangan anak.Hal ini dikarenakan perempuan lebih mudah dimanfaatkan menjadi tenaga kerja wanita(TKW) ilegal,"tutur Dirjen Pelayanan Sosial dan Rehabilitasi Sosial,Departemen Sosial,Puji Astuti,di sela-sela penutupan Festival Anak Jalanan di Bandung,Rabu (21/12).
Anak-anak yang rawan itu berumur antara 10-12 tahun.Selain itu,perdagangan anak dilakukan dengan modus berkedok adopsi.Kasus perdagangan anak diindonesia melibatkan 32 yayasan yang tersebar dibeberapa daerah.Akan tetapi,darijumlah tersebut baru 30 yayasan yang menjalani proses penyidikan.
Mengenai anak jalanan,Puji menjelaskan,terjadi kenaikan anak jalanan pascakenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).Pasalnya,sebagian besar akar masalah sosial adalah kemiskinan.Akibatnya,ketidakmampuan masyarakat menimbulkan dampak bagi meningkatkan anak jalanan.
Kini,diperkirakan jumlah anak jalanan mencapai 130.000,sedangkan tahun lalu 96.000.Dari jumlah anak jalanan tersebut,sekitar 15 persen diantaranya tidak memiliki orang tua.Mereka juga tidak bersekolah karena harus bekerja dijalanan.


(Sinar Harapan,22 Desember 2005)